Geguritan Smaragama: 2x9 BLAS/PDB-DPR/Sejarah/PDB 13/2019
Synopsis
Naskah ini memiliki kode digitalisasi BLAS/PDB/SI/PDB13/2019. Naskah dalam kondisi cukup baik, teks masih bisa terbaca jelas. Di Pusdokbud, Disbud Bali, naskah ini memiliki kode G/XXI/7/DISBUD dan berasal dari Kuhum, Abang, Karangasem. Naskah berwarna hitam dan ada penomoran halaman menggunakan angka aksara Bali. Dari kolofon diketahui bahwa naskah disalin oleh I Komang Degeng pada tahun 1994. Naskah ini merupakan salah satu koleksi Pusdokbud, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.
Naskah berisi cerita bahwa di dalam mengarungi kehidupan, bagaikan kita menaiki perahu yang penuh dengan cobaan, maka dibutuhkan pengetahuan, sehingga luput dari segala bahaya. Kehidupan ini seperti halnya orang yang melihat bayangan wayang yang dimainkan oleh Kidalang 9 bukan itu sesungguhnya), demikian juga bagi orang yang belum mengetahui (sampai pada pengetahuan) yang sejati. Bahkan ilmu percintaan dibutuhkan dalam kehidupan.
Diuraikan pula tata cara dan aturan yang benar. Dikisahkan pula perjalanan baginda Ali dengan istrinya Fatimah dalam mengarungi kehidupan. Disebut juga Mekah adalah badan kita yang merupakan bumi suci tempat Islam menyucikan diri. Pretiwijati diuraikan sebagai sebuah nama pulau yang tempatnya di dalam air, namun jarang orang mengetahui. Apabila orang tahu pengetahuan itu maka segala penyakit akan hilang. Uraian tentang Islam, Saadat, adat, serta cara sembahyang, tapi sunat dan tasbihh juga dibutuhkan. Di dalam mencari kebenaran yang sejati, bukan karena sembahyang, pakaian, dan sastranya orang disebut Islam, tetapi karena menuruti perintahnya. Dikisahkan pula tentang Jamal yang sangat elok parasnya, tentang kepemimpinan siang malam sebagai penuntun, tidak melihat latar belakang agama, bekerja tanpa pamrih dan selalu belajar.
Kutipan awal naskah: “Liwat laraning kasmaran, lwir wong anglayar, ring tasik layare sutra dewangga, bahitra salaka putih, kamudinia ratna adhi, ambabar layar, tulya sruh, waneh ikang dahitra, wikanahing pulo adhi, pulo ika, prenahe pupuling sadya. Pulo angrawit angraras, satengah ikang jaladhi, ingapiting karapringga, watu rejeng kanan kiri, akeh bahitra prapti, tan awas malih sireku, dadya bahitra pecah, keneng karang lawan duri, pada kebat sangune akurambangan..”
Kutipan akhir naskah: “Yan nora kawilangan, larungen akopyah jung katekaki, ajate dadi panjulu, pangulu apa araneka, ngatuawa, yogya kinala iku, tan pamrih agama, peteng lemah gulik sai.”
2x9 | BLAS/PDB-DPR/Sejarah/PDB 13/2019 | Bali | Jawa Kuno | Puisi | 30/4 | 35 x 3,5 cm | 35 x 3,5 cm | Lontar | - | I Komang Degeng | Pusdokbud, Disbud Prov. Bali | Pusdokbud, Disbud Prov. Bali, Denpasar
Published
Categories
License

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.