Geguritan Amsyah (Sasakan): 2x9 BLAS/PDB-DPR/Sejarah/PDB 12/2019

Authors

admin

Synopsis

Naskah ini memiliki kode digitalisasi BLAS/PDB/SI/PDB12/2019. Naskah dalam kondisi cukup baik, teks masih bisa terbaca jelas. Di Pusdokbud, Disbud Bali, naskah ini memiliki kode G/I/8/ DISBUD dan berasal dari Desa Muncan, Selat, Karangasem. Naskah ditulis menggunakan tinta warna hitam dan ada penomoran halaman menggunakan angka aksara Bali. Tidak ada keterangan nama penyalin maupun tahun penyalinan dalam naskah. Naskah ini merupakan salah satu koleksi Pusdokbud, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.

Diawali dengan menyebut nama Tuhan (Allah) Sang penguasa dunia, maha pengasih, maha kuasa yang dipuja sebagai penguasa alam semesta yang tidak henti-hentinya dipuja oleh umat manusia.

Diceritakan dalam sejarah di Negeri Bandaralim baginda Amsyah mempunyai seorang putri bernama Ratna Dewi Rengganis bertempat tinggal di Arggapura putra seorang pendeta ratu. Pertapaannya sangat asri dan terkenal, beliau meninggalkan istana Jaminerat dan sangat berduka karena ditinggal permaisurinya. Dewi Rengganis satu-satunya putrinya yang sangat cantik ahli menenun membuat songket, membatik, menenun kopiah, membuat baju bagaikan perbuatan jin, Dewi Ratna Rengganis adalah orang sakti, di mana kesaktiannya berasal dari sang ayah. Sang Dewi pergi ke sebuah pemandian Raden Mas Iman Suwongso putra raja Arab. Sang Raja pendeta menasihati agar putrinya tidak lagi pergi ke pemandian putra raja. Untung saja dia dalam keadaan selamat. Diceritakan setelah 4 hari Raden Iman Suwongsa ingin memakai bunga. Di taman beberapa bunga dinyatakan hilang termasuk bunga tunjung tutur. Sang Raja Putra berjaga-jaga di Taman (pemandian) diiringi punakawan dan pejabat kerajaan. Turunlah Dewi Rengganis dari angkasa tiba-tiba sudah berada di dalam Taman (pemandian), sehingga Sang Raja Putra terkejut bagaimana caranya kok sudah ada di dalam, beliau sangat kagum melihat kecantikan Dewi Rengganis baunya harum semerbak beliau berpikir apakah itu jin atau peri bagaikan Dewi Ratih turun dari surga. Setelah mandi Dewi Rengganis berganti pakaian lalu pergi bertemu dengan Raden Repatmaja. Putra Raja mengatakan Dewi Rengganis yang merusak bunga-bunganya yang ada di taman, namun Dewi Rengganis balik menuduh putra raja yang merusak tanaman bunga. Terkesan dengan kecantikannya putra raja berkata halus menanyakan sang Dewi berasal dari mana? Dewi Rengganis menjawab: Hamba orang desa dari Argapura nama saya Rara Rengganis minta maaf tidak akan melakukan kesalahan seperti itu lagi, karena pemandian itu milik raja. Raden Arya Repatmaja membebaskan Rara Rengganis, Dewi Rengganis mohon pamit terbang di angkasa. Setelah berapa lama putra raja selalu ingat dan tidak bisa melupakan Dewi Rengganis, demikian sebaliknya Dewi Rengganis yang bagaikan turunan Widyadari dan sebagai mustikanya dunia. Raden Repatmaja duduk-duduk di Taman seperti orang gila ingin bertemu dengan sang Dewi Rengganis. Jadi mengisahkan tentang Raden Repatmaja dan Raden Iman Suwongsa serta Dewi Rengganis.

Kutipan awal naskah: “Awighnamastu, Puh Smaran 1. Ingsunamimitya, anebut namaning Alah, kang sumarahing dunya reko, ikang asihing ngaherat, kang pinuji tan pgat, kang rumakseng alam iku, kang sinebuting ngaherat.”

Kutipan akhir naskah: “Angling sang raja pinutra, daweg ta Mas Ayu singgih, Dewi Rengganis angucap, andika mrm kapati, tan kena mleng blik, yan ringkeling sasampur, yen mrem mrem ayam, pasti tiba nulih mati, lamon merem, kapati panora tiba.”

2x9 | BLAS/PDB-DPR/Sejarah/PDB 12/2019 | Bali | Jawa, Bali, Sasak | Puisi | 34/4 | 39,5 x 3,5 cm | 39,5 x 3,5 cm | Lontar | - | - | Pusdokbud, Disbud Prov. Bali | Pusdokbud, Disbud Prov. Bali, Denpasar

PDF

Published

September 15, 2022

How to cite